Padanan Kata yang sering kita dengar dibidang HRD atau HCD yang ternyata diartikan secara berbeda- beda oleh pakar HCD.
Ada yang membedakan Training untuk sisi mesin dari manusia sedangkan Develoment untuk sisi manusianya manusia (baca tulisan Forbes dibawah ini), Ada yang menganggap itu merupakan satu kesatuan, Ada juga yang melihat itu sebagai dua hal yang terpisah dengan menambahkan lagi istilah baru “Fascilitating and Development”. Jadi mana yang benar kalau begitu ?
Marilah kita kembali ke definisi :
Training : adalah pelatihan , yang seharusnya isinya melatih keterampilan (SKILL) dan gurunya disebut Trainer
Development: adalah pengembangan.
Jadi keduanya merupakan kata yang berbeda dan kalau digabung maka berarti setelah dilakukan Training maka diharapkan akan berkembang atau boleh juga untuk mengembangkan seseorang dibutuhkan Pelatihan atau Training.
Jadi Training adalah proses nya dan berkembang adalah hasilnya. Diambil dari dua artikel :
Forbes :The Solution
The solution to the leadership training problem is to scrap it in favor of development. Don’t trainleaders, coach them, mentor them, disciple them, and develop them, but please don’t attempt to train them. Where training attempts to standardize by blending to a norm and acclimating to the status quo, development strives to call out the unique and differentiate by shattering the status quo.
Training is something leaders dread and will try and avoid, whereas they will embrace and look forward to development. Development is nuanced, contextual, collaborative, fluid, and above all else, actionable.
An analysis of Leadership development program Teaching or facilitating leadership?
The Developmental Leadership Program is clear that we do not think that leadership (as a process) can be taught, but that it can potentially be facilitated, fostered or brokered through the right methods.
Sabtu 5 januari 2013 ada BBM masuk dari salah satu rekan EO yang tertarik dalam bidang Developing orang sbb:
“Abah bagaimana cara paling effektif mengetahui seseorang perlu di training atau di coaching atau tidk perlu dilakukan apa-apa?”
Kemampuan setiap karyawan harus dikembangkan (develop) untuk menjadi lebih baik yang ukurannya adalah KINERJA atau juga berapa yang DIHASILKAN atau juga PRODUKTIVITAS. Dan kalau bicara kemampuan maka seharusnya dilihat dulu kemampuan dalam aktivitas mana saja?
Karena didunia kerja ada beragam aktivitas dan setelah mengetahui klaster aktivitasnya baru kita bisa memahami faktor faktor apa saja yang berpengaruh terhadap kemampuan seseorang sehingga selanjutnya kita bisa memilih metoda terbaik untuk mengembangkan seseorang
AKTIVITAS DIDUNIA KERJA
Walaupun dikamus ada sekitar 13 ribu kata kerja bukan berarti berarti ada 13 ribu aktivitas didunia kerja karena setelah dikumpulkan dan dikelompokan ada sekitar 100 klaster aktivitas saja dan penelitian di Indonesia (konsep ini belum dikenal didunia) selama kurang lebih 4 tahun di puluhan perusahaan , klaster aktivitas tersebut sudah bisa mewakili berbagai fungsi pekerjaan.
Berikut dapat dilihat pengelompokan klaster aktivitas dalam 8 kelompok yang terkait dengan ketiga unsur ABC (Affective, Behavior dan Cognitive) atau sering juga disebut Affective, Conitive, Cognitive yang kalau dalam bahasa Indonesia ada Cipta (Cognitive) Rasa (Affective) Karsa (Motivasi diri).
Pengelompokkan ini harus difahami oleh semua orang yang bergelut dibidang Sumber Daya Manusia dan pengelompokan ini juga sangat menentukan unsur mana yang paling penting untuk dikembangkan dari 4 unsur utama yaitu TASK (Talent Attitude Skill Knowledge).
KESIMPULAN
Dalam diri manusia ada sisi Robot (Mesin) dan ada sisi Manusia nya yang apabila ingin dikembangkan seharusnya melalu metoda yang berbeda. Dalam sisi Robot, manusia bisa dikembangkan dengan cara mengajarkan dan melatih materi apapun yang perlu dikembangkan (Teaching, Training). Dalam sisi Manusia, manusia harus dikembangkan dengan cara mengajarkan dan melatih materi yang merupakan potensi kekuatannya saja (Fascilitating, Coaching, Mentoring dlsb)
© Copyrights 2017. All rights reserved.